Politik    Sosial    Budaya    Ekonomi    Wisata    Hiburan    Sepakbola    Kuliner    Film   
Home » » Senyuman Itu Menjadi Inspirasi Masa Depan

Senyuman Itu Menjadi Inspirasi Masa Depan

Teriknya mentari pagi menerobos  masuk kedalam kamar ku melalui sela-sela pentilasi kost. Tempat dimana aku tinggal ditanah rantauan ini. Sinarnya mampu membuat tubuh yang tadinya terbaring diatas kasur kecil berontak untuk beranjak menikmati indahnya mentari pagi dan segarnya hembusan angin yang bertiup secara perlahan.
Dengan wajah  kusam dan rambut yang acak-acakan ku beranjak sambil mengkocak-kosak mata yang hampir kembali terpejam. Ku buka jendela kamar berharap udara pagi masuk menggantikan rasa pengap.
Ku tatap secara perlahan setiap sisi kamar yang tampak sempit itu, tatapan itu berhenti saat mata ini terfokus pada satu album kusam berwarna merah hati yang ku bawa dari kampong halaman dan berisikan foto aku dan keluarga.
Tanpa berfikir panjang ku gapai foto itu dan ku buka lembaran demi lembaran. Dengan mata yang berkaca-kaca yang seolah-olah menahan tangisan, tangan ku berhenti bergerak, bibir ini bergetar, ku tatap foto dua insan yang sedang duduk di ruang tamu dengan menebarkan untaian senyuman yang mengandung makna sendiri untuk ku membuat air mata yang ku tahan mengalir membasahi pipi. Ya,,,,,,,, itulah emak dan ayah ku, orang yang selama ini aku rindukan, yang selama ini selalu memberikan semangat untuk ku dalam meraih masa depan yang gemilang. Emak yang selama ini menghiburku saat ku menangis, tertawa saat aku tertawa, yang sudah 18 tahun mengisi hari-hari ku, mengajarkan aku artinya menghargai, mendidik dari ku terlahir didunia ini hingga ku bisa berada ditengah-tengah abang-abang, ayuk-ayuk, adek,adek, cik-cik, dan semua masyarakat. Ayah yang selama ini memberikan didikan keras tapi mempunyai makna tersendiri untuk ku karena aku mengerti akan maksud semua itu. Yang selma ini berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga.
………“Ayah dan emak yang selama ini rela membuat dirinya miskin demi anak-anaknya, yang merasa kenyang saat kita mengadu uang kiriman habis walau kenyataannya perut mereka seakan berbelit menahan lapar, yang menganggap uang ratusan ribu seakan tak berarti apa-apa demi kebutuhan kita, yang rela tubuhnya keriput akibat sering berada dibwah teriknya mentari, bermandikan keringat demi sesuap nasi dan kebahagiaan anak-anaknya ditengah rantauan.” 

SHARE :
CB Blogger
 
Copyright © 2015 Adnan Travel. All Rights Reserved. Powered by Blogger
Template by Creating Website and CB Blogger